Minggu, 26 Desember 2010

Bahaya di Balik Kemasan Makanan


Kemasan makanan merupakan bagian dari makanan yang  sehari-hari kita konsumsi. Bagi sebagian besar orang, kemasan makanan  hanya sekadar bungkus makanan dan cenderung dianggap sebagai  "pelindung" makanan. Sebetulnya tidak tepat begitu, tergantung jenis bahan kemasan. Sebaiknya mulai sekarang Anda cermat memilih kemasan  makanan.  Kemasan pada makanan mempunyai fungsi kesehatan,  pengawetan, kemudahan, penyeragaman, promosi, dan informasi. Ada begitu banyak bahan yang digunakan sebagai pengemas primer pada  makanan, yaitu  kemasan yang bersentuhan langsung dengan makanan. Tetapi tidak semua  bahan ini aman bagi makanan yang dikemasnya. Inilah ranking teratas bahan kemasan makanan yang  perlu Anda  waspadai.

A. Kertas.
Beberapa kertas kemasan dan non-kemasan (kertas  koran dan majalah)  yang sering digunakan untuk membungkus makanan,  terdeteksi  mengandung timbal (Pb) melebihi batas yang  ditentukan. Di dalam  tubuh manusia, timbal masuk melalui saluran  pernapasan atau pencernaan menuju sistem peredaran darah dan  kemudian menyebar ke berbagai jaringan lain, seperti: ginjal, hati, otak,  saraf dan  tulang. Keracunan timbal pada orang dewasa ditandai dengan gejala 3 P, yaitu pallor (pucat), pain (sakit) & paralysis (kelumpuhan).  Keracunan yang terjadipun bisa bersifat kronis dan  akut. Untuk  terhindar dari makanan yang terkontaminasi logam  berat timbal, memang susah-susah gampang. Banyak makanan jajanan  seperti pisang goreng, tahu goreng dan tempe goreng yang dibungkus  dengan koran  karena pengetahuan yang kurang dari si penjual, padahal bahan yang  panas dan berlemak mempermudah berpindahnya timbal  makanan tsb.  Sebagai usaha pencegahan, taruhlah makanan jajanan  tersebut di atas  piring.

B.Styrofoam
 Bahan pengemas styrofoam atau polystyrene telah  menjadi salah satu pilihan yang paling populer dalam bisnis pangan.  Tetapi, riset  terkini membuktikan bahwa styrofoam diragukan  keamanannya. Styrofoam yang dibuat dari kopolimer styren ini menjadi  pilihan bisnis pangan karena mampu mencegah kebocoran dan tetap mempertahankan bentuknya  saat dipegang. Selain itu, bahan tersebut juga mampu mempertahankan  panas dan dingin tetapi tetap nyaman dipegang, mempertahankan kesegaran dan keutuhan bahan yang dikemas, biaya  murah, lebih aman, serta ringan. Pada Juli 2001, Divisi Keamanan Pangan Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa residu styrofoam dalam  makanan sangat  berbahaya. Residu itu dapat menyebabkan endocrine  disrupter (EDC),  yaitu suatu penyakit yang terjadi akibat adanya  gangguan pada sistem  endokrinologi dan reproduksi manusia akibat bahan  kimia karsinogen  dalam makanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar