Jumat, 03 Desember 2010

Tatalaksana Diet Pada Diabetes Melitus, Kelainan Lemak Darah dan Hipertensi

Dr. Cindiawaty Pudjiadi MARS, MS, SpGK

Penyakit Vaskular akibat aterosklerosis dengan manifestasi klinik berupa penyakit jantung koroner dan stroke merupakan penyebab kematian nomor satu di Indonesia.
Gaya hidup terutama pola makan, aktivitas dan kebiasaan merokok, merupakan faktor yang mempengaruhi prevalensi penyakit jantung dan stroke. Secara umum masyarakat Indonesia terutama daerah perkotaan telah mengalami perubahan gaya hidup khususnya pola makan.
Apabila pada tahun 70-an komposisi asupan makanan: tinggi karbohidrat kompeks, tinggi serat, cukup protein terutama nabati serta rendah lemak, maka dengan perbaikan status sosial ekonomi serta intervensi budaya barat, komposisi tersebut berangsur-angsur berubah menjadi tinggi karbohidrat terutama karbohidrat simpleks, tinggi lemak terutama hewani namun rendah dalam kandungan seratnya. Ditambah dengan berkurangnya aktivitas, maka perubahan pola makan
tersebut berperan besar dalam peningkatan prevalensi penyakit jantung dan stroke di Indonesia.
Tatalaksana diet merupakan salah satu cara yang penting untuk pengendalian gula darah pada diabetes mellitus, pengendalian lemak darah pada kelainan lemak darah dan pengendalian tekanan darah pada hipertensi.
Secara umum kebutuhan kalori baik pada penderita diabetes, peningkatan lemak darah dan hipertensi sama, yaitu ditentukan berdasarkan usia, jenis kelamin, aktivitas dan penyakit yang diderita, dengan komposisi zat gizi sebagai berikut:
Karbohidrat : 60-70%
Protein : 10-15%
Lemak : 20-25%
Kolesterol : <200-300 mg/hari
Serat : 25 g/hari
Nutrisi Untuk Diabetes
Riset di bidang pengobatan diabetes sudah semakin maju dengan ditemukannya berbagai obat yang mutakhir, walaupun demikian diet masih merupakan pengobatan yang utama pada penatalaksanaan diabetes, disamping olahraga.
Tujuan penatalaksanaan diet pada diabetes adalah:
  • • Mencapai dan kemudian mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal
  • • Mencapai dan mempertahankan lipid mendekati normal
  • • Mencapai dan mempertahankan berat badan agar selalu dalam batas-batas yang memadai atau berat badan idaman ± 10%
  • • Mencegah komplikasi akut dan kronik
  • • Meningkatkan kualitas hidup
Kebutuhan kalori untuk penderita diabetes dihitung sesuai dengan kebutuhannya yaitu berdasarkan umur, jenis kelamin, aktivitas dan penyakit lain yang diderita, dengan demikian tidak ada satu diet yang dapat digunakan untuk semua penderita.
Strategi terapi nutrisi pada penderita DM tipe 2:
Menjaga kadar gula darah dan lipid darah dalam kadar normal. Pada penderita diabetes dengan berat badan lebih atau obes, penurunan berat badan 5% – 10% , memperlihatkan perbaikan penyakit diabetes, walaupun berat badan yang diharapkan belum tercapai. Untuk menurunkan berat badan diberikan restriksi kalori 250-500 kal lebih rendah dari kebutuhan kalori total, selain itu perlu penurunan asupan lemak. Pembagian makanan menjadi 6 porsi makan, lebih baik daripada dibagi atas 2 -3 kali makan.
Karbohidrat
Sebaiknya penderita diabetes mengkonsumsi cukup karbohidrat. Asupan karbohidrat berkisar 60- 70% dari total kalori. Asupan karbohidrat ini sebaiknya berasal dari karbohidrat kompleks seperti: nasi, roti gandum, buah-buahan, sayuran. Sebaiknya menghindari karbohidrat simpleks seperti gula pasir, kue, sirup dll, karena karbohidrat simpleks lebih cepat dicerna dan diserap, sehingga lebih cepat menaikkan gula darah.
Protein
Asupan protein yang disarankan adalah 10-15% dari total kalori, bila terdapat kelainan pada ginjal (nefropati), asupan protein yang disarankan tergantung dari fungsi ginjalnya.
Lemak
Kelainan lemak darah sering dijumpai pada penderita diabetes, selain itu diabetes merupakan faktor risiko untuk penyakit kardioserebrovaskular, oleh karena itu asupan lemak yang disarankan 20-25% dari total kalori. Bila tidak terdapat kelainan lemak darah, maka kurang dari 10% total kalori didapat dari asam lemak jenuh dan asupan kolesterol kurang dari 300 mg/hari.
Bila terdapat kelainan lemak darah, disarankan tidak lebih dari 7% total kalori berasal dari asam lemak jenuh dan asupan kolesterol kurang dari 200 mg/hari. Bila terdapat hipertrigliseridemia disarankan untuk mengkonsumsi monounsaturated fatty acid (MUFA). MUFA terdapat di olive oil, canola oil dan minyak kacang.
Alkohol
Efek alkohol pada kadar gula darah, tidak hanya tergantung pada alkohol yang dikonsumsi, tapi juga berhubungan dengan asupan makanan. Pada keadaan puasa alkohol dapat menyebabkan hipoglikemia pada penderita diabetes yang menggunakan insulin, tapi tidak mengkonsumsi makanan. Alkohol tidak dapat dikonversikan menjadi glukosa, walaupun alkohol dapat digunakan sebagai sumber kalori. Penderita dengan hipertrigliseridemia, sebaiknya menghindari mengkonsumsi alkohol.
Natrium
Diabetes berhubungan dengan hipertensi, oleh karena itu disarankan untuk mengkonsumsi sekitar 2400-3000 mg natrium per hari, pada penderita diabetes yang juga menderita hipertensi asupan natrium disarankan kurang atau sama dengan 2400 mg/hari. Pada penderita yang menderita hipertensi dan nefropati asupan natrium disarankan kurang atau sama dengan 2000 mg/hari.
Vitamin dan mineral
Penderita diabetes umumnya tidak memerlukan suplementasi vitamin dan mineral, bila mereka mengkonsumsi makanan yang sesuai dengan kebutuhannya dan bervariasi. Vitamin yang perlu diperhatikan antara lain : antioksidan, terdiri dari vitamin A, Beta karoten, vitamin E, vitamin C. Vitamin ini terdapat dalam sayuran dan buah-buahan yang dikonsumsi sehari-hari, jadi bila sayuran yang dikonsumsi cukup dan bervariasi, maka tidak perlu mengkonsumsi suplementasi.
Serat
Asupan serat yang disarankan adalah 25 g/hari. Serat terdapat antara lain pada sereal, havermut, buah-buahan, sayuran dan kacang-kacangan. Serat larut yang terdapat pada havermut, kacang-kacangan, buah dan beberapa sayuran dapat membantu menghambat penyerapan glukosa di usus, selain itu serat larut dapat membantu menurunkan kolesterol total dan LDL.
Sweeteners (gula pengganti)
Bila menginginkan rasa manis sebaiknya menggunakan gula pengganti seperti: aspartam, sakarin, acesulfame K, sucralose.
Tatalaksana Diet untuk Peningkatan Lemak Darah
Pengaturan makan merupakan salah satu penanganan peningkatan lemak darah yang penting selain olah raga dan obat-obatan. Faktor penting yang berhubungan dengan peningkatan lemak darah adalah konsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi, konsumsi makanan yang mengandung asam lemak jenuh, dan kelebihan berat badan. Tujuan dari pengaturan diet pada peningkatan lemak adalah untuk menurunkan kadar lemak darah dengan pengaturan makan. Diet sebaiknya mengandung rendah asam lemak jenuh dan rendah kolesterol, selain itu bagi yang kelebihan berat badan, diet yang diberikan diatur sehingga dapat menurunkan kelebihan berat badan tersebut. Langkah pertama disarankan diet terdiri dari:
Total lemak < 30%,  terdiri dari: 
  • • Asam lemak jenuh <10%
  • • Polyunsaturated fatty acid (PUFA) < 10%
  • • Monounsaturated fatty acid (MUFA) 10-15%
  • • Karbohidrat 60 – 70 %
  • • Protein 10 – 15%
  • • Kolesterol < 300 mg/hari
Bila dalam waktu 3 – 4 bulan belum tercapai kadar lemak darah yang diharapkan, maka asupan asam lemak jenuh diturunkan menjadi :  
  • • 7% dari total kalori
  • • kolesterol < 200mg/hari
  • • MUFA 10 – 15%
  • • PUFA < 10%
Asam lemak
Asam lemak jenuh (Saturated fatty acid/SFA) Secara umum, asam lemak jenuh cenderung meningkatkan kolesterol darah, 25 – 60 % lemak yang berasal dari hewani dan produknya merupakan asam lemak jenuh. Lemak hewani umumnya mengandung 1 mg kolesterol/g lemak, sedangkan lemak pada butter mengandung 3 mg kolesterol/g lemak. Setiap peningkatan 1% energi dari asam lemak jenuh, diperkirakan akan meningkatkan 2,7 mg/dl kolesterol darah, akan tetapi hal ini tidak terjadi pada semua orang. Minyak kelapa sawit dan minyak kelapa mengandung asam lemak jenuh, akan tetapi seperti makanan yang berasal dari nabati lainnya, minyak tidak mengandung kolesterol.
Polyunsaturated fatty acid (PUFA)
Omega-3 banyak terdapat di minyak ikan dan ikan laut. Penelitian mendapatkan omega-3 membantu menurunkan trigliserida 25-30%, selain itu dapat menurunkan kolesterol LDL sehingga dapat menurunkan angka kematian, penyakit jantung dan stroke.
Monounsaturated fatty acid (MUFA)
MUFA dapat membantu menurunkan kadar kolesterol, LDL, trigliserida, dan meningkatkan kadar HDL. Sumber MUFA adalah olive oil, canola oil, minyak kacang.
Kolesterol
Asupan tinggi kolesterol dapat meningkatkan kadar kolesterol darah, kenaikan 25 mg kolesterol diet dapat meningkatkan kolesterol darah sebesar 1 mg/dl. Kolesterol ditemukan pada produk hewani, seperti daging, seafood, jeroan (hati, ginjal, otak, usus, dll). Jeroan mengandung kolesterol 4 – 15 kali lebih tinggi dibandingkan dengan daging.
Serat
Serat larut yang terdapat di kacang-kacangan, havermut, buah dan beberapa sayuran dapat membantu menurunkan kolesterol darah. Hal ini terjadi karena serat mengikat asam empedu yang akan menurunkan kadar kolesterol darah, karena kolesterol tersebut harus menggantikan asam empedu yang diikat oleh serat tersebut. Selain itu bakteri di usus besar memfermentasikan serat menjadi asetat, propionat dan butirat yang menghambat sintesis kolesterol.
Asupan serat disarankan 25 g/hari, ini bisa tercapai dengan mengkonsumsi lebih dari 5 porsi buah dan atau sayuran per hari.
Anjuran gizi pada kelainan lemak darah:
  1. Hindari makanan-makanan yang tinggi lemak seperti gorengan, daging berlemak termasuk sosis, mentega, keju, es krim, kue, fast food, kulit hewani.
  2. Kurangi makanan sumber kolesterol seperti jeroan, otak, kuning telur, dll.
  3. Buanglah lemak pada daging, untuk ayam sebaiknya dibuang kulitnya.
  4. Konsumsilah kacang merah, kacang polong, kacang kedelai yang merupakan sumber protein dan serat larut yang baik, yang dapat membantu menurunkan lemak darah.
  5. Satu kuning telur mengandung 213 mg kolesterol dan 1.7 g lemak jenuh, oleh karena itu sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 2 butir perminggu.
  6. Konsumsilah buah-buahan dan sayuran secara teratur. Buah-buahan sebaiknya dikonsumsi dalam keadaan segar (bukan olahan).
  7. Hindari konsumsi karbohidrat simpleks (misalnya gula yang berlebihan).
  8. Pertahankan berat badan ideal. Bila berat badan berlebih, turunkan.
  9. Hindari rokok.
  10. Pertahankan aktivitas fisik yang teratur.
Tatalaksana Diet untuk Hipertensi
Pasien dengan hipertensi cenderung kelebihan berat badan, terdapat hubungan antara kelebihan berat badan dengan hipertensi. Risiko hipertensi meningkat 2-6 kali pada orang yang obes dibandingkan dengan orang yang tidak obes. Penurunan berat badan pada pasien dengan obes disertai dengan hipertensi umumnya memperbaiki/menurunkan tekanan darahnya. Selain itu penurunan berat badan dapat menurunkan risiko penyakit kardioserebrovaskular, termasuk kelainan lemak darah dan intoleransi glukosa. Hubungan antara penurunan berat badan dengan penurunan tekanan darah, belum diketahui mekanismenya dengan pasti.
Pembatasan Natrium
Natrium ditemukan di hampir semua makanan dan umum ditambahkan pada makanan. Kebutuhan natrium untuk dewasa dan anak-anak kurang dari 200 mg per hari, akan tetapi kebanyakan orang mengkonsumsi 6 – 12 g garam per hari (2,5 – 5 g natrium). Konsumsi tinggi natrium cenderung meningkatkan tekanan darah. Pembatasan asupan natrium pada pasien dengan hipertensi, memperlihatkan penurunan tekanan darah. Belum diketahui keuntungan mengkonsumsi natrium lebih dari yang dibutuhkan, oleh karena itu disarankan untuk mengkonsumsi garam kurang dari 6 g (2,4 g natrium) per hari.
Alkohol
Penelitian memperlihatkan peningkatan prevalensi hipertensi dengan meningkatnya konsumsi alkohol. Asupan alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan resistensi terhadap obat-obat darah tinggi, dan penurunan asupan alkohol dapat melindungi terhadap hipertensi. Kebiasaan mengkonsumsi alkohol sebaiknya dibatasi tidak lebih dari 2 sloki per hari.
Kalium
Penelitian mendapatkan hubungan terbalik antara asupan kalium dengan tekanan darah. Asupan kalium pada orang dewasa berkisar antara 2 – 6 g perhari dan umumnya berasal dari buah, sayuran, daging, dan susu.
Lemak
Penurunan asupan lemak terutama asam lemak jenuh dapat menurunkan berat badan dan profil lemak darah. Asupan lemak sebaiknya diganti dengan karbohidrat kompleks terutama buah dan sayuran.
Kafein
Walaupun kafein dapat menaikkan tekanan darah, kebiasaan mengkonsumsi kafein tidak berhubungan dengan nilai tekanan darah atau risiko hipertensi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar